Kamis, 18 April 2013

Pelayanan Tingkat Kepuasan Konsumen

PELAYANAN
‘'ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN FUTSAL ALBA

1.1    Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan kemajuan dalam bidang olahraga maka pengembangan dunia usaha juga mengalami pertumbuhan dan kemajuan pesat. Semua ini dibuktikan dengan bermunculan sarana-sarana dan fasilitas baru, baik yang berskala besar maupun yang berskala kecil dan ada juga pengembangan usaha yang semula kecil menjadi besar. Semakin meningkat fasilitas dan pelayanan yang menarik ditawarkan oleh berbagai macam pengembangan fasilitas dan pelayanan yang menarikditawarkan oleh berbagai macam pengembangan fasilitas sarana olahraga. Bekasi merupakan pusat perdagangan, jasa dan perindustrian serta fasilitas sarana olahraga.
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh suatu usaha agar dapat sukses dalam persaingan adalah berusaha untuk menciptakan dan mempertahankan konsumen-konsumen merupakan salah satu faktor terpenting bagi perkembangan suatu usaha, karena tanpa konsumen suatu usaha tidak akan dapat menjalankan kegiatan usahanya. Oleh karena itu, dalam setiap usaha dituntut untuk dapat memberikan suatu yang berharga dan dapat memberikan kesan yang mendalam bagi konsumen. Salah satu faktor yang dapat memberi kesan yang mendalam bagi konsumen adalah memberikan kepuasan atas pelayanan yang diberikan.
Pelayanan adalah faktor penting dan utama dalam sebuah usaha, dimana para konsumen akan merasa puas apabila mereka memperoleh pelayanan yang baik. Akan tetapi para pelanggan akan pergi apabila pelayanan yang diberikan tidaklah memuaskan. Selain itu dengan didukung fasilitas yang memadai dan memenuhi kriteria/syarat serta harga yang terjangkau, maka tentulah hal tersebut akan membuat konsumen merasa terpuaskan. Dengan adanya integrasi.
Unsur-unsur tersebut tentu akan menjadi kunci keberhasilan perusahaan jasa untuk meningkatkan informasi, membangun kepuasan konsumen melalui kualitas pelayanan dalam memahami kepuasan konsumen tentu tidak mudah, karena pada dasarnya konsumen mempunyai sifat dan latar belakang yang berbeda-beda misalnya agama, pendidikan, budaya dan umur. Sementara itu setiap konsumen memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin dipenuhi kebutuhannya serta ingin diperhatikan.


Belakangan ini hobi bermain futsal sangat diminati dari mulai anak-anak hingga orang dewasa, dan tidak hanya kaum laki-laki yang memainkan permainan olahraga ini, banyak juga wanita yang gemar menyasikan pertandingan futsal. Tidak hanya itu saja banyak penggemar sepak bola yang beralih ke futsal disebabkan kurangnya lapangan sepak bola yang sudah dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi untuk pusat perbelanjaan dan perkantoran.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis ingin mencoba untuk membuat penulisan ilmiah mengenai “ ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN FUTSAL ALBA ’’

1.2    Rumusan  Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1        Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ilmiah ini adalah apakah konsumen merasa terhadap pelayanan yang diberikan oeleh Futsal Alba.

1.2.2        Batasan Masalah
Dalam penulisan ini, penulis menyebarkan kuisioner kepada 100 responden di Futsal Alba pada bulan ini 2012. Penulis membatasi masalah pelayanan yang diberikan oleh Futsal Alba berdasarkan (5) variabel yaitu : kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan berwujud.

1.3        Tujuan Penelitian
Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh Futsal Alba yang diukur dari 5 variabel yaitu, kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan berwujud.

1.4        Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
1.      Manfaat Praktis
Maksudnya dari manfaat praktis ini, diharapkan bisa digunakan oleh pihak manajemen dalam pengambilan keputusan untuk penentuan biaya yang akan dikeluarkan dalam proses jasa, dan dapat memberikan manfaat praktis bagi Futsal Alba agar dapat mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan.

2.      Manfaat Akademis
Manfaat dari akademis ini adalah penulisan ini bisa dijadikan acuan bagi penulis ingin melakukan penulisan yang sama atau sejenis, serta dapat menambah pengetahuan dan wawasan kepada para pembaca, khususnya bagi penulis itu sendiri.

1.5    Metode Penelitian

1.5.1        Objek Penelitian
Objek penelitian ini dilakukan pada konsumen yang bermain futsal di Futsal Alba yang bertempat di Jl. Bintara Raya - Bekasi

1.5.2        Data/variabel
1.      Data Primer
Data yang diperoleh dari penelitian secara langsung terhadap obyek. Dimana data diperoleh langsung melalui wawancara dan hasil-hasil yang diperoleh dari pengisian kuesioner oleh konsumen Futsal Alba.
2.      Data Sekunder
Data yang diperoleh dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan.

1.5.3        Metode Pengumpulan Data/ Variabel
1.      Observasi
Observasi adalah pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung terhadap obyek penelitian.
2.      Wawancara
Mengadakan wawancara secara langsung dengan berbagai pihak yang terkait, yang dapat memberikan data-data yang diperlukan.
3.      Metode Kuesioner
Untuk memperoleh  data primer (langsung) maka metode pengumpulan data yang digunakan berupa kuesioner, merupakan pengumpulan data dengan menyusun daftar pertanyaan secara tertulis dimana pertanyaan tersebut akan disebarkan kepada para responden untuk memperoleh data serta tanggapan-tanggapan tentang fenomena yang dihadapi.

Hipotesis
Ho : Konsumen merasa tidak puas terhadap kualitas pelayanan Futsal Alba
Ha : Konsumen merasa puas terhadap kualitas pelayanan pada Futsal Alba

Alat analisis yang digunakan:
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui tingkat kepuasan terhadap kualitas  yang diberikan Futsal Alba dengan melihat lima (5) dimensi yang terdiri dari : kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan berwujud. Maka alat analisis yang digunakan adalah :

Metode Skala Likert
Dalam penulisan ilmiah ini penulis menggunakan skala likert yaitu jenis skala hyang digunakan untuk mengetahui tanggapan konsumen terhadap variabel penelitian ini. Variabel ini dibagi menjadi beberapa dimensi dinilai sesuai objeknya dan dapat diukur dalam kategorinya. Sebanyak 100 responden diminta menjawab pertanyaan yang telah ada dengan kategori tertentu jawaban masing-masing. Dalam hal ini digunakan tingkat skala yang terdiri dari sangat puas, puas, cukup puas, tidak puas, dan sangat tidak puas. Dimana masing-masing tingkat kepuasan memiliki nilai, yaitu 5,4,3,2,1

Metode Chi Square
Metode yang digunakan untuk menganalisis data dan untuk pengujian hipotesa yaitu menggunakan metode Chi Square (Chi Kuadrat) dengan pertandingan antara frekuensi observasi yang diperoleh baik melalui pengamatan maupun hasil angket yang dilambangkan (fo) dengan frekuensi harapan yang didasarkan atas hipotesis tertentu yang dilambangkan (Fe)

Dimana :


X                             : Chi Square

Fo                           : Frekuensi Observasi

Fe                           : Frekuensi teoritis yang diharapkan

Kesimpulan :

Alat analisis yang digunakan:
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui tingkat kepuasan terhadap kualitas  yang diberikan Futsal Alba dengan melihat lima (5) dimensi yang terdiri dari : kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan berwujud. Maka alat analisis yang digunakan adalah : Metode Skala Likert dan Metode Chi Square.



Jumat, 15 Maret 2013

PENALARAN DEDUKTIF

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut denganconsequence (konklusi).
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.

Jenis penalaran deduktif yaitu:
Ø Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Ø Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Ø Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Ø Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

• CONTOH PARAGRAF DEDUKTIF

Chairil Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya yang dikumpulkan dalam "Deru Campur Debu" memperlihatkan adanya perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945.


Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak langsung.

1. Penarikan simpulan secara langsung
Simpulan secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis. Premis yaitu prosisi tempat menarik simpulan.
Simpulan secara langsung:
1. Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)

Contoh: Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)

2. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)

Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

3. Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)

Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)

4. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
Tidak satu-pun tak P adalah S. (simpulan)

Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)
Tidak satu pun kucing adalah takberbulu. (simpulan)
Tidak satupun yang takberbulu adalah kucing. (simpulan)

2. Penarikan simpulan secara tidak langsung
Untuk penarikan simpulan secara tidak langsung diperlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis tersebut akan menghasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.

Jenis penalaran deduksi dengan penarikan simpulan tidak langsung, yaitu:
1. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Contohnya:
- Semua manusia akan mati
Ani adalah manusia
Jadi, Ani akan mati. (simpulan)

- Semua manusia bijaksana
Semua dosen adalah manusia
Jadi, semua dosen bijaksana. (simpulan)

2. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. Dan dapat dikatakan silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Entimen pada dasarnya adalah silogisme
Contoh :
Premis mayor (MY) : manusia mahluk rasional
Premis minor (MN) : kucing bukan manusia
Kesimpulan (K) : kucing tidak rasional

My : setiap manusia pernah lupa
Mn : mahasiswa adalah manusia
K : mahasiswa pernah lupa

Dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Silogisme merupakan bentuk penalaran deduktif yang formal
b. Proses penalaran dimulai dari premis mayor melalui premis minor sampai pada kesimpulan
c. Strukturnya tetap : premis mayor, premis minor, kesimpulan
d. Premis mayor beisi pernyataan umum
e. Premis minor berisi pernyataan yang lebih khusus yang merupakan bagian premis mayor
f. Kesimpulan dalam silogisme selalu lebih khusus daripada premisnya

Contoh kalimat dalam Entimen :

Contohnya :
- Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Pada malam hari tidak ada sinar matahari
Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis.

- Semua ilmuwan adalah orang cerdas
Anto adalah seorang ilmuwan.
Jadi, Anto adalah orang cerdas.

Jadi, dengan demikian silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, entimen juga dapat dijadikan silogisme.




SUMBER :

http://carapedia.com/paragraf_deduktif_induktif_info700.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

Kamis, 15 November 2012

Perilaku Situasi Konsumen


 Pengaruh Situasi (Perilaku Konsumen)

PENGERTIAN SITUASI
Menurut Engel, dkk(1994) pengaruh situasi adalah pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek. Menurut Asseal (1998) Faktor situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu, kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen

FAKTOR – FAKTOR SITUASI KONSUMEN
Pengaruh situasional dalam konsumen adalah faktor personal dan lingkungan sementara yang muncul pada saat aktifitas konsumen , sehingga situasi konsumen meliputi faktor-faktor sebagai berikut:
a.   Melibatkan waktu dan tempat di dalam aktivitas konsumen
b.   Mempengaruhi tindakan konsumen seperti perilaku pembelian
c.   Situasi konsumen relative merupakan jangka pendek, tidak termasuk karakteristik personal yang berlaku dalam jangka panjang.

Secara garis besar jenis/tipe situasi konsumen dibagi menjadi 3 sesuai dengan waktu kegunaannya yaitu :
1.   Situasi Komunikasi
           Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi. Komunikasi yg dilakukan bisa bersifat pribadi atau nonpribadi
Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :
1. Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
2. Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah, poster, billboard, brosur, leaflet dsb
3. Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promosi.

2.   Situasi Pembelian
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian.
Misal: Ketika Konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain

3.   Situasi Pemakaian
           Situasi pemakaian adalah situasi dimana barang yang dibeli dipakai oleh pembeli sesuai dengan situasi yang diharapkan pembeli. Misalnya  Konsumen Baju seragam sekolah tentu digunakan pada saat beraktivitas di lingkungan sekolah, kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja. Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga,pakaian untuk beribadah, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga.

Tahap-tahap proses pembelian
1.      Pengenalan Masalah
Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dengan kondisi yang diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan eksternal ataupun internal.
2.      Pencarian Informasi
Proses mencari informasi secara aktif dimana konsumen mencari bahan-bahan bacaan, menelpon teman-temannya, dan melakukan kegiatan mencari-cari untuk mengetahui tentang suatu barang dan jasa. Secara umum, konsumen menerima informasi terbanyak dari suatu produk dari sumber-sumber komersial, yaitu sumber-sumber yang didominasi oleh para pemasar. Pada sisi lain, informasi yang paling efektif justru berasal dari sumber-sumber pribadi.
3.      Evaluasi Alternatif
Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang rasional.
4.      Keputusan Pembelian
Faktor yang akan mempengaruhi keputusan pembalian adalah sikap orang lain (sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi alternatif pilihan seseorang), tujuan pembelian, persepsi seseorang terhadap barang dan jasa, dan faktor sosial serta budaya.
5.      Perilaku Pasca Pembelian
Setelah pembelian suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Jika konsumen marasa puas maka ia akan memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk itu kembali. Namun, apabila konsumen tidak puas maka ia akan mengurangi ketidakcocokkannya dengan meninggalkan atau mengembalikanproduk tersebut atau mereka mungkin akan mencari informasi yang mungkin mengkonfirmasikan produk tersebut menjadi bernilai tinggi.

INTERAKSI ORANG DENGAN SITUASI
Memahami serta menganalisis pengaruh situasi dalam proses pembelian barang , banyak dan konsumen yang di pengaruhi oleh variasi dari situasi lain yang sesuai dengan keadaan mereka saat itub .

PENGARUH SITUASI YANG TIDAK TERDUGA
Bagaimana seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian , yang tadinya dia tidak mau embeli barang  tapi karena suatu hal jadi membeli barang tersebut .


PEMBAHASAN
CONTOH KASUS
Misalkan ketika seseorang sedang berpergian dengan jarak perjalanan yang jauh menggunakan motornya untuk menuju daerah atau provinsi tertentu, tentu dia akan membawa persedian makanan, tapi hanya untuk 1 hari paling lama dan seterusnya dia harus membeli makanan yang ada dijalan, memang secara harga pasti akan mahal dari biasanya, namun harus dipertimbangkan bahwa dia juga bukan berada ditempat yang biasa, dari situlah seseorang tersebut akan mempertimbangkang situasi/ kondisi dimana dia berada.
Dan mau tidak mau dia harus membeli makanan tersebut walaupun harganya mahal dibandingkan ditempat lain. (situasi pembelian)
Pada saat musim dingin biasanya orang-orang akan menggunakan pakaian musim dingin atau baju hangat, berbeda halnya dengan seseorang yang pergi ke tempat yang beriklim tropis dan hangat, pasti akan ada perbedaan dalam hal penggunaan pakaian.
Orang yang pergi ke tempat tropis seperti pantai, pasti akan menggunakan pakaian yang tidak terlalu tebal. Disitulah dapat kita lihat pengaruh tempat dan iklim akan mempengaruhi seseorang dalam hal pemakaian barang.(situasi pemakaian)
Ketika seseorang sedang membutuhkan informasi, maka orang tersebut pasti akan mencari informasi yang dia butuhkan, baik itu melalui komunikasi dengan orang lain, melalui media elektronik atau media cetak, semua itu tergantung jenis informasi yang dibutuhkan.
Misalkan seorang mahasiswa ingin membeli laptop, ia pasti akan mencari informasi tentang harga-harga laptop melalui internet, media cetak atau dengan orang terdekat. Selanjutnya mahasiswa tersebut mungkin mendatangi tempat kebutuhan tersebut. Maka ia bisa mengevaluasi hasil dari pertimbangan harga dan merek laptop yang ia inginkan sesuai dengan kemampuannya.(Situasi komunikasi)

Minggu, 14 Oktober 2012

Evaluasi Alternatif Sebelum pembelian


EVALUASI ALTERNATIF SEBELUM PEMBELIAN



PENDAHULUAN

Banyaknya barang ataupun jasa yang tersedia di pasar membuat konsumen harus memilih mana yang paling cocok bagi kebutuhan dan seleranya.  Untuk memilih mana produk yang paling cocok dan memberikan kepuasan paling besar, konsumen perlu membandingkan produk – produk yang sejenis, mulai dari harga, kualitas maupun variabel lainnya. Dalam prosesnya, konsumen perlu melakukan evaluasi alternatif sebagai tindakan berjaga-jaga, jika terjadi masalah dalam proses pembelian atau pendapat produk.

PENGERTIAN EVALUASI

Evaluasi  adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya.

TAHAP-TAHAP DALAM PROSES PEMBELIAN

1.   Menganalisa Keinginan dan Kebutuhan
Penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditujukan terutama untuk mengetahui             \adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi  atau terpuaskan

2.   Menilai Sumber-sumber
Tahap kedua dalam proses pembelian ini sangat berkaitan dengan lamanya waktu   dan jumlah uang yang tersedia untuk membeli.

3.   Menetapkan Tujuan Pembelian
Tahap ketika konsumen memutuskan untuk tujuan apa pembelian dilakukan, yang             bergantung pada jenis produk dan kebutuhannya

4.   Mengidentifikasikan Alternatif Pembelian
Tahap ketika konsumen mulai  mengidentifikasikan berbagai alternatif pembelian

5.   Keputusan Membeli
Tahap ketika konsumen mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Jika                             dianggap bahwa keputusan yang diambil adalah membeli, maka pembeli akan                               menjumpai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, bentuk produk, merk,                     penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya

6.   Perilaku Sesudah Pembelian
Tahap terakhir yaitu ketika konsumen sudah melakukan pembelian terhadap produk                      tertentu.


KRITERIA EVALUASI

Kriteria evaluasi, salah satu aktivitas dalam proses pengambilan keputusan konsumen, memegang peranan penting dalam memprediksi perilaku pembelian konsumen. Saat konsumen melakukan aktivitas ini, mereka sedang mempertimbangkan atribut-atribut yang terdapat pada satu produk dan menilai atribut mana yang lebih penting untuknya yang ia gunakan sebagai dasar keputusan memilih produk (Kotler, 2005).

TIGA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PILIHAN KONSUMEN

KONSUMEN INDIVIDU

Pilihan merek dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen, persepsi atas karakteristik     merek,dan sikap ke arah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh    demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.

PENGARUH LINGKUNGAN

Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh budaya (norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan), kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi           atas harta milik konsumen), grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup     referensi)dan faktor menentukan yang situasional (situasi dimana produk dibeli             seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).

Marketing strategy

Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah barang, harga,    periklanandan distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan    keputusan. Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi             kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen dalam gambar 1.1 penelitian pemasaran memberikan             informasi  kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek. Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen.

MEMILIH ALTERNATIF TERBAIK

Di dalam pengambilan keputusan, pengambil keputusan harus memilih salah satu alternatif di antara banyak alternatif. Pemilihan dapat dilakukan berdasarkan pada kriteria tertentu, kompromi, atau tekanan. Memang harus diakui ada hasil keputusan yang memuaskan semua pihak tetapi ada juga yang merugikan pihak lain.


KESIMPULAN

Evaluasi alternatif merupakan salah saru tahapan dalam proses pengambilan keputusan yang sangat penting. Banyak pilihan alternatif yang ada membuat kita harus teliti dan cermat dalam menetukan pilihan yang tepat. Ada beberapa cara untuk memilih produk yang tepat, yaitu menetukan kebutuhan akan suatu produk, memilih harga dan kualitas yang tepat, membandingkan produk-produk yang sejenis. Dengan melakukan evaluasi alternatif diharapkan konsumen dapat memilih produk yang tepat dan memberikan kepuasan yang paling maksimal.


REFERENSI